Selasa, 27 Desember 2011

just for you, Reno

Mentari pagi masih memancarkan cahayanya. Kulangkahkan kakiku menuju kesuksesan, sekolah. Dengan mantap aku keluar dari asrama yang hanya berjarak 100 meter dari gedung sekolahku, lebih tepatnya gedung SMA Surya Cipta. Semangat yang selalu mengiringiku adalah dukungan dari orang tua yang berada jauh nan disana juga karena dia, cowok special yang ada di hatiku. Hai, aku Laras, saat ini aku duduk di kelas XII yang sebentar lagi akan menghadapi ujian terbesar dalam hidupku. Kelulusan, yah kelulusan SMA lebih besar bebannya daripada kelulusan SMP ataupun SD. Karena pada kelulusan SMA, merupakan proses peralihan jati dariku yang sudah mulai terbentuk menjadi semakin terbentuk, menjadi dewasa. Dia, cowok special di hatiku. Sebut saja ia Reno. Anaknya baik, teman sekelasku sejak kelas X. Ia juga pintar, segudang prestasi ia raih, tapi seluruh prestasinya tak sejalan denga prestasiku. Aku mungkin berprestasi di kelas, namun untuk nasional, masih belum. Reno sangat akrab denganku. Hingga suatu saat, perasaanku dan perasaan Reno dipersatukan oleh satu rasa, cinta. Saat itu Reno mengungkapkannya secara langsung dihadapanku dan membuatku kagum. “Ehmmm Ras, ada yang mau gue omongin”ucap Reno saat itu. Setengah tau arah pembicaraan, aku menjawab pertanyaan Reno “Mau ngomong apa Ren?”. Reno semakin gelisah, tingkahnya tak karuan. Tak jarang ia menghentakkan kaki dan memainkan jari-jari tangannya kesana-kemari, seolah menandakan kalau ia salting berat. Suasana hening, tak ada pembicaraan apapun. Akhirnya Reno buka suara, dengan terbata-bata ia menyatakan cintanya padaku. “Ras, sebenernya yang mau gue omongin itu…., ehm…., ehm…., tentang…”. “Tentang apa Ren?”timpahku lagi. “Tentang perasaan gue sama lo. Entah kenapa selama tiga tahun kita berteman dan gue sayang sama lo, tapi saat ini rasa sayang gue beda. Gue rasa, gue jatuh cinta sama lo! Lo mau nggak jadi cewek gue?”. Aku diam, terpaku. Bingung harus menjawab apa sore itu di cafĂ© sekolah. “Ehmmm, iya gue mau Ren”jawabku tiba-tiba tanpa berfikir panjang karena aku yakin, Reno serius kepadaku begitu juga denganku yang sangat serius menyukai Reno.

*****
Hampir tiga bulan hubunganku dan Reno sudah berjalan. Rasa kami masih sama, cinta. Tak ada perubahan dari diri kami masing-masing. Tapi, tak jarang juga pertengkaran terjadi. Kalau hubungan tak terjadi pertengkaran, maka hubungan itu flat dan hambar. Namun, kami berhasil melalui semua masalah yang datang menghampiri. Siang itu, Reno yang sedang asyik dengan laptopnya memanggilku. Aku menghampiri Reno sembari membawakannya roti. “Ras….”.  “Ada apa Ren? Eh ini roti, sarapan dulu kamu”. Reno tetap fokus dengan laptopnya, entah apa yang sedang ia kerjakan saat itu aku pun tak tau. Sesekali ia menatapku, sesekali pula ia mengambil roti dariku lalu memakannya. “Ehm Ras, tadi malem aku mikir dan aku sadar, ternyata kita udah kelas tiga yaaa? Cepet banget yaaa. Hahaa”ucap Reno. Tawa Reno membuatku penasaran. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan serius oleh Reno. Tapi apa? Aku coba memancing dengan pertanyaan yang mengarah. “Haha iya ya, kok kamu baru sadar sih?”tanyaku. “Ya tadi malem itu aku kepikiran. Kayaknya porsi belajar aku harus ditambah deh, kamu juga”jawabnya gantung. “Iya bener, untung kita udah bimbingan di luar”balasku. “Hehe iya sih, tapi kayaknya masih kurang deh. Aku itu ya, setiap malem mikirin kamu terus dan alhasil aku nggak konsen belajar”balasnya lagi. Aku semakin paham, Reno pasti ingin minta putus dariku. “Kamu mau serius sama belajar kamu dulu yaa? Pengen ngejer cita-cita? Hmm, kalo gitu kita putus dulu aja yaa”ucapku to the point. “Loh kok kamu ngomongnya gitu? Kan bukan maksud aku…..”. kutempelkan jari telunjukku di bibir Reno “Sssst, aku minta break bukan karena omongan kamu kok. Semua itu karena aku sadar, kalo kita bener-bener harus full konsen belajar buat setengah tahun kedepan. Ini bukan hanya buat kamu, tapi juga buat aku”jelasku panjang. Reno memandangku penuh senyum. Sangat terlihat sekali, saat aku mengucapkan kata putus, beban yang ia pikul pun sirna. Sedih memang rasanya, tapi aku tak boleh egois dan harus bisa bersikap dewasa. Hanya satu harapan, semoga ia bisa berhasil dengan semua prestasinya. “Makasih kamu udah ngerti aku”ucap Reno. Aku hanya mengangguk lalu keluar kelas. Tak dapat kupungkiri, aku sangat sedih atas kejadian ini. Air mata jatuh membasahi pipiku. Namun aku harus ikhlas, demi Reno, demi prestasinya dan demi kesuksesannya…

*****
Sudah hampir sebulan aku tak berhubungan dengan Reno. Tapi, walau tak ada ikatan kami masih sering bercanda bersama layaknya dua orang yang memiliki ikatan. Mungkin bisa dibilang hubungan tanpa status. Tanpa adanya status, beban Reno hilang. Saat ini Reno sedang mati-matian belajar untuk perlombannya di salah satu universitas bergengsi. Prestasinya yang gemilang, wajahnya yang manis, gayanya yang keren, itu semua bukan alasanku menyukainya. Aku tulus mencintai Reno. Saat aku menganggapnya sebagai teman, aku sangat melihat dan menghargai seluruh prestasinya. Namun saat aku menganggapnya sebagai seseorang yang kucintai, maka semua itu tak terlihatku. Karena aku mencintai Reno tanpa ada embel-embel yang melekat padanya. Aku mencintainya dengan sederhana. Kubuat sebuah puisi untuk Reno dan puisi itu juga sebagai penggambaran isi hatiku.

Segudang Prestasi
Segudang Reputasi
Bergelimang di dirimu

Kemilau kesuksesan
Gemilau keberhasilan
Semuanya tak menyilaukan hatiku

Aku mencintaimu dengan sederhana
Dengan apa yang kupunya
Apa adanya
Hanya satu yang menyilaukan hatiku
Yaitu hatimu
Cintaku tumbuh sempurna karena hatimu, bukan apa yang melekat di dirimu

*****
Reno berhasil, ia memenangkan perlombaan itu. Betapa bahagianya diriku mendengar kabar itu, kabar kesuksesannya. Ternyata perngobananku tak sia-sia. Lega, itu yang kurasakan. Namun, sepertinya ujian datang lagi kepada kami. Sore itu Reno menghampiriku menenteng hapenya. Reno bercerita kepadaku, kalau ada cewek yang sedang PDKT dengannya. Reno bilang kalau cewek itu yang lebih dulu mendekatinya. Semua BM ia tunjukkan padaku. Baru setengah kubaca, aku sudah tak tahan. Tak kuat menahan semua ini, aku pergi. Di dalam kamar aku hanya bisa menangis, lagi lagi menangis karena Reno. Semenjak Reno dekat dengan cewek itu (sebut saja ia Dina), Reno kerap sekali mengabaikanku. Aku merasa, hubungan kami menjadi sangat renggang nyaris terputus. Sekarang, semua perbuatanku selalu salah di mata Reno. Reno menjadi lebih sensitif, ingin selalu diperhatikan, dinomorsatukan. Tapi apakah ia tak berpikir sedikit pun, bagaimana perasaanku saat ini? Entahlah….,mungkin ia ingin benar-benar mengakhiri semuanya denganku dan mungkin saja hatinya telah berpaling ke Dina. Aku tak menyalahkan Reno. Perasaan manusia tak ada yang bisa mengatur. Cinta itu anugrah dari Tuhan. Aku sangat paham teori itu. Namun, mengapa aku sulit menerima semua ini? Apakah aku harus melepaskan Reno dari kehidupanku? Tapi aku masih sangat sayang padanya. Tuhan, apa yang harus kuperbuat? Aku sayang Reno dan ingin selalu melihatnya bahagia. Jika masih terus begini, mungkin aku akan mundur dari hubungan ini…..,demi Reno…. :’)

Kamis, 15 Desember 2011

satu kata, cinta

Glitter Text Maker
Glitter Text Maker - eCards


“Teringat tentang masa lalu dan ingin rasanya aku kembali”

Aku Fathiya Farastrika atau biasa dipanggil Raras. Saat ini usiaku sudah menginjak *sensor* tahun. Simpan semua identitasku saat ini di akhir cerita. Aku ingin menceritakan pengalaman hidupku di waktu lampau. Saat aku masih kanak – kanak, saat aku masih SD, saat aku masih SMP, saat aku masih SMA lebih tepatnya saat diriku tersentuh dan mulai mengenal satu kata yang aku pun tak terlalu paham makna kata tersebut. Aku terserang kata ‘CINTA’ . mungkin bagi kalian, kata tersebut sudah biasa. Tapi bagiku, kata itu sungguh memiliki makna yang sangat dalam. Maka dari itu, aku sangat ingin menjadi guru bahasa Indonesia, karena aku bisa membuat satu kata menjadi seribu makna. Sesuatu yang tak kumengerti, mengapa cinta harus datang dalam hidupku?

*****
“Ras, selamat ya! lo berhasil jadi ketua kelas”ucap Tania, teman sebangku di SMP. aku hanya membalas dengan senyuman. Ini adalah kisah saat aku SMP. disinilah aku mulai mengenal satu kata yang sudah kusebutkan tadi, cinta. Cinta pertamaku berawal saat aku masuk eskul pramuka. Aku dan Ega (cowok yang aku sir), kami berdua sangat akrab. Awalnya, aku menganggap hubungan kami hanya sebatas teman. Tapi, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika aku bertemu dengan Ega. Tepatnya hari itu, saat eskul sedang kumpul untuk membicarakan persami (perkemahan sabtu-minggu). Tak seperti biasanya, ketika Ega menghampiriku, jantungku berdebar kencang. Oh Tuhan, apakah ini yang namanya cinta? Aku benar-benar bingung dengan rasa ini. Kami sudah cukup lama berteman, tapi kenapa rasa ini baru muncul sekarang? beribu pertanyaan dan ketakutan-ketakutan berhamburan di dalam otakku. Sampai-sampai aku nyuekin Ega. Ega yang sudah terlihat kesal saat itu melambaikan tangannya di depan wajahku. “Ras? lo dengerin gue nggak sih?”. “Eeee’ denger kok Ga, hehe”aku tertawa kecil. “Emang gue ngomong apa tadi?”tanya Ega. Mampus, celaka 13! mana aku sama sekali nggak denger apa yang Ega bicarain. “Ehmm, tentang perkemahan kan?”jawabku sembari garuk-garuk kepala karena bingung mau jawab apa. Ega tertawa “Haha ngaco banget sih lo! Gue itu nggak ngomong apa-apa kali. Dasar Rarass”Ega mengelus kepalaku. Tersenyum, lebar sekali. Baru kali ini aku merasa senaaang saat Ega mengelus kepalaku. Padahal ini bukan kali pertama Ega memperlakukanku seperti itu.

Aku pulang ke rumah, seperti biasa dengan kendaraan termurah di dunia, jalan kaki. Saat itu, kendaraan umum masih sangat jarang. Tak sabar rasanya menunggu hari sabtu. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar lalu menulis di karton yang kemudian kutempelkan di dinding kamarku. *cinta, cinta itu indah. Jangan takut untuk merasakan cinta. Apabila cinta tlah datang di hidupmu, maka sambut lah ia dengan kehangatan* kata-kata itu yang kutuliskan di selembar karton yang sudah kutempelkan di dinding. “Rarass, ada Tania!”teriak bunda. “Iya Bun! Sebentar”aku berlari ke lantai bawah. Terlihat dari jauh Tania yang senyum-senyum nggak jelas. Tanpa basa-basi, aku menarik tangan Tania lalu mengajaknya pergi. Tania terlihat bingung. Padahal jelas-jelas Tania mau main ke rumahku bukan untuk menyusulku dan mengajakku main. Semua itu kulakukan agar Tania tidak mengetahui perasaanku terhadap Ega. Kalau Tania masuk ke kamarku, bisa MATI!
“Lo kenapa sih Ras?”tanya Tania sampai tiga kali tapi tak sekali pun kujawab. Sorry Tania!!!!

*****
Pakaian? Topi? Dasi? Udah semua. Okey, let’s GO! aku pergi ke sekolah dengan semangat. Kenapa begitu? karena hari ini hari sabtu. Dan kalian tau kan kenapa hari sabtu begitu spesial bagiku. Di gerbang sekolah, Ega sudah menyambutku, tersenyum hangat. “Ega, kok nggak beres-beres?”tanyaku basa-basi. “Udah kok, selamat ulang tahun yaa. nanti waktu semua tenda dan perkemahan udah siap, gue mau ke tenda lo. Ada sesuatu buat lo”Ega pergi meninggalkan rasa penasaran. Mulutku menganga, kaku. Aku tak menyangka kalau Ega mengingat hari ulang tahunku. Tak sabar menunggu saat itu. Kira-kira apa yang ingin Ega kasih ke aku ya? Semua itu akan terjawab nanti. Dengan pede-nya aku merasa kalau Ega akan memberikan sesuatu yang spesial untukku. “Rarass! Jangan ngelamun, ayo berangkat!”teriak kak Tejo. Aku berlari kencang. Bodohnya, semenjak Ega pergi dari hadapanku tadi rupanya aku melamun. Berangkaaaaaat!

“Ras lo bediriin tuh tenda, udah itu kumpul ke lapangan”perintah kak Agung. Aku segera melaksanakannya. Semua selesai, upacara pembukaan juga telah usai. Kini tiba saatnya, ya saatnya. Satu jam, dua jam pun berlalu, namun Ega tak kunjung datang ke tendaku. Bukan Raras namanya kalau tidak penasaran. Ega tak datang maka aku yang datang. Benar saja, ada kejutan spesial untukku saat aku tiba di tendanya. Air mata tertahan untuk beberapa saat, karena aku tak ingin terlihat lemah. Ya, aku mendapatkan Ega dan Tania sedang bermesraan di depan tenda Ega. Ega yang keburu melihatku sontak mengejarku. “Ras, dengerin gue dulu!”. “Udah Ga, cukup”aku pergi. Setelah kejadian itu, ingin rasanya kegiatan ini berakhir lebih awal.

Satu hari kemudian, kami semua anggota pramuka pulang ke rumah masing-masing. Masuk ke kamar lalu merobek karton yang kutempel beberapa hari lalu. Kuambil karton baru lalu kutuliskan satu pernyataan *nggak mau lagi kenal cinta, nggak mau pacaran!*. Yah, keputusan itu telah kuambil. Entah suatu saat akan berubah atau tidak, entahlah...

Esoknya, Ega menemuiku di kelas dan meminta maaf “Ras, maafin gue yaa sumpah gue nyesel banget”ucap Ega. Aku menepuk pundak Ega “Nggak apa-apa ini semua anggap aja pembelajaran buat kita semua. Kita masih bisa temenan kok”aku pergi. Masih sakit sebenarnya, tapi aku harus bangkit. Dari awal aku berada di dunia ini aku sudah terlahir sebagai anak tomboy dan preman. Tapi semua itu tidak melewati batas kodratku sebagai wanita. Saat ini aku lebih fokus ke ujian dan masuk SMA. Semoga aku bisa menemukan kebahagian yang lebih disana...

*****
Hari ini adalah hari pertama aku di SMA. Tak terasa yaaa? sekarang udah SMA meninggalkan masa-masa SMP. di SMA ini aku kembali tersentuh dengan kata itu. Ya, aku jatuh cinta lagi. Kali ini sama teman sekelasku. Aku yang kembali menjadi ketua kelas, selalu mencoba mendapatkan perhatiannya. Cowok itu namanya Jojo. Apa pun yang berhubungan dengan Jojo, baik itu uang kas, peer atau apalah, semua aku yang handle. Ternyata alangkah susahnya mendapatkan sedikit perhatiannya. Setiap kali aku menagih uang kas padanya, ia selalu bertanya dengan wajah heran “Kok lo sih Ras yang nagih?”. “Nggak papa, pokoknya apa pun tentang lo itu harus gue yang handle”jawab gue. Sampai-sampai aku rela mengikutinya pulang sedangkan arah rumahku berlawanan dengan arah rumahnya. Aku merelakan uang jajanku berkurang hanya untuk biaya ongkos yang dobel, karena bolak-balik. Jojo tetap tidak menyadari kehadiranku di bis itu. Tapi tak apalah, yang penting bisa terus melihatnya.

Beberapa bulan kemudian, Jojo mulai menyadari kehadiranku di bis. Jojo menghampiriku lalu bertanya “Ras, setiap hari kayaknya lo naik bis yang sama ya sama gue? Emang lo mau kemana sih? Bukannya rumah lo berlawanan arah ya?”. Pertanyaan sulit ibarat di dalam permainan catur itu namanya SKAK MAT!. “Emmm, gue emang mampir ke rumah sodara gue dulu deket gang rumah lo. Kenapa ya Jo?”. “Oh nggak papa, Cuma mau ngajak bareng aja kalo lo hari ini mau kesana lagi”. “Mau!”jawab gue semangat.

Jam pulang tiba, aku dan Jojo segera naik bis. Saat sampai di depan gang Jojo, aku bingung bukan main. Gimana ini? Aku kan nggak punya saudara sama sekali disini. Terfikir satu ide cemerlang “Jo, Tante gue belum pulang, gimana kalo gue ke rumah lo dulu”. “Oh yaudah”balas Jojo. Hatiku berasa terbang melayang jauh nan tinggi. KLIK!
Setelah hari itu, aku semakin dekat dengan jojo. Namun, kedekatan kami tak berarti apa-apa bagi Jojo. Jojo tak kunjung menyatakan cinta padaku hingga kami lulus SMA. Mungkin ini karma, karena waktu SMP aku pernah melukai hati salah satu temanku. Aku menolak cintanya di muka umum. Tapi aku benar-benar tak bermaksud. Saat itu aku sedang galau, karena Ega. Yah sudahlah itu masa lalu. Jojo hilang kabar setelah kami lulus SMA. Tak ada satu teman pun yang mengetahui keberadaan Jojo. *Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan* kata-kata itu yang dapat kuambil saat itu.

*****
Saat kuliah, aku tak memikirkan lagi soal cinta. Aku lebih fokus ke pelajaran dan segera lulus lalu mendapatkan pekerjaan. Empat tahun kemudian, aku lulus. Di umurku yang sudah cukup matang, aku memutuskan ingin segera berkeluarga. Aku mengenal seorang lelaki yang cukup baik dan kami hanya berkenalan tidak melalui proses pacaran. Namanya Gilang, anak yang baik dan santun. Tanpa menunggu waktu yang lama, kami memutuskan untuk menikah dan membina rumah tangga. Alhamdulillah, semoga ini pilihan yang tepat. Setelah semua siap, kami tinggal menunggu hari. Besok, akad nikah akan dilaksanakan, dan aku akan menjadi milik Gilang seutuhnya. Nervous tak terhindarkan. Keluarga dan tetangga sedang sibuk di dapur. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kuangkat handphone “Halo ini siapa ya?”tanyaku. “ini Rarass?”. “Iya, ini siapa?”. “Aku Jojo Rass, kamu apa kabar?”. Aku tercengang. Bagaimana mungkin Jojo kembali saat aku sudah memiliki Gilang?. “Rass....?”. “Eh Iya Jo, alhamdulillah baik. Kamu gimana? Sekarang kamu dimana?”. “Aku juga baik. Aku di Jakarta. Besok aku pulang, aku ingin kenal keluarga besar kamu lebih dekat dan aku akan bawa kamu ke orang tua aku. Boleh kan?”. Aku terdiam, kaku. Tiba-tiba Gilang menghampiriku “Siapa yang nelfon Ras?”. “E..eee..temen”jawabku. setelah Gilang pergi, aku kembali melanjutkan pembicaraanku dengan Jojo. “Rass, tadi ada suara cowok, dia siapa?”. “Saudara aku lagi ada acara di rumah”. Aku benar-benar dilema. Satu sisi aku masih mencintai dan berharap pada Jojo, tapi itu masa lalu dan di sisi lain aku punya masa depan, Gilang. Setelah pembicaraan kami berakhir, aku terdiam di kamar memikirkan keputusan apa yang akan kuambil. Setelah kutimbang-timbang, Gilang yang akan kupilih untuk membina rumah tangga bersamaku. Malam itu juga kutelfon Jojo dan memberitahukan semuanya “Jo, sebenarnya di rumahku ada acara persiapan pernikahan aku besok”. Jojo terdiam beberapa saat “Kamu kok gitu sih? Padahal, besok aku mau ke rumah kamu”. “Maaf Jo, tapi kamu itu masa lalu aku dan kenapa kamu nggak ngasih kepastian ke aku. Semua itu membuat aku bingung! Aku aja nggak tau kamu ada dimana”. Jojo memutuskan pembicaraan kami dengan mematikan telefon. Aku paham, Jojo pasti kecewa padaku. Tapi ini keputusanku! Gilang masa depanku, bukan Jojo. Walau sedikit rasa masih tertinggal...

*****
Saat ini, aku sudah memasuki usia kepala tiga. Aku memiliki dua buah hati bersama Gilang. Kini aku benar-benar tersentuh cinta, cinta sejati, cinta yang abadi. Kebahagian terus kami dapatkan dan sekarang Gilang bekerja di luar kota. Walau begitu, komunikasi tetap terjalin. Aku bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di salah satu SMA swasta ternama di kotaku. Bersyukur, karena cinta-citaku tercapai. Biarlah semua pengalaman menjadi pembelajaran untuk diriku di kemudian hari. Sesekali aku mengingat masa lalu yang indah, aku tertawa. Sesekali mengingat masa lalu yang sedih, aku menangis. Terkadang saat mengingat masa lalu, ingin rasanya aku kembali ke masa itu. SMP, SMA terutama masa-masa bersama Jojo. Tapi semua itu...masa lalu.

*Kebahagian sejati kita dapatkan disaat kita menatap masa depan dan mensyukuri apa yang ada di hadapan kita bukan menoleh ke belakang atau tenggelam di masa lalu*

'avl'

Rabu, 07 Desember 2011

love is love

Glitter Text Maker
Glitter Text Maker - eCards


“Satu hal yang selama ini ingin kulakukan, aku ingin jujur”

Aku Jejen Salsabila Wiragunawan. Teman – temanku biasa memanggilku Jejen atau Salsa. Tapi kebanyakan dari mereka memanggilku Jejen. Saat ini aku duduk di bangku SMA. Senang rasanya bisa merasakan hiruk pikuk ritme kehidupan anak SMA. Kata orang – orang masa SMA adalah masa terindah. Setelah beberapa kali kuamati, memang benar, masa SMA adalah masa terindah. Pada masa itu seseorang sedang remaja – remajanya. Lagi sibuk mencari jati diri, mencari teman, dan menyadari satu perasaan, yaitu cinta.

*****
Love, love, and love. Hidup terasa aneh, mati, jika di dalamnya tak ada cinta. Hidupku juga begitu. Bagiku, mencintai seseorang adalah anugrah terindah yang diberikan Tuhan. Sayang, aku hanya berani mencinta tanpa menyatakan perasaanku kepada orang yang kucintai. Dengan begitu bisa dibilang cinta sebelah tangan. Tapi aku yakin suatu saat ada seseorang yang benar – benar mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. Keputusanku untuk tidak pacaran, membuatku sulit untuk pendekatan dengan seorang cowok. Sahabat cowok sih banyak, tapi kalo untuk yang ke arah pacaran aku selalu menutup diri. Satu kisah saat SMA yang membuat hidupku menjadi aneh. Kisah antara aku dan seseorang yang saat ini spesial di hidupku, namanya Raditya Kemas Prayuda. Biasanya sih dipanggil Yuda. Kisah itu berawal dari pertemuan singkat, yang entah mengapa aku merasakan satu pandangan tentang Yuda, sombong dan nyebelin. Saat itu benar – benar kesal dan nggak mau kenal yang namanya Yuda. Dia kakak kelasku. Orangnya pinter, supel, muka standar, Cuma gayanya emang cool. Pagi itu, aku berangkat ke sekolah dengan semangatnya. Yuda sudah berada di depan kelasnya. Perlahan tapi pasti aku melewatinya tanpa mengucapkan satu kata pun. Rasa benci itu makin memuncak. Tak bisa memendam sendiri, akhirnya ku putuskan untuk curhat, membagi kisahku kepada teman dekatku, Fadila Trisya. Dila terus mendengarkan curhatan demi curhatanku. “Kisah kamu aneh banget Jen, tapi kayaknya entar kamu bakal suka deh sama Yuda”. Aku melongo, tak ingin perkataan Dila menjadi kenyataan.

Esoknya, aku kembali pergi ke sekolah. Semua siswa sibuk mengerjakan tugas powerpoint dari salah seorang guru. Aku satu kelompok dengan Farasya. Fikiranku masih diselimuti Yuda. Tanpa sengaja Rasya membuka salah satu folder di flashdiskku yang berisi foto Yuda yang kuambil dari akun jejaring sosial. “Jen, ini foto siapa? Kok gue kenal sama jaketnyaa”ucap Rasya. Sontak kuambil laptop itu lalu membawanya kabur. “Jen...”Rasya mengejarku. Akhirnya, aku tertangkap dan mau tak mau harus menceritakan semuanya pada Rasya. “Itu foto Yuda Ras, gue itu benci banget sama doi”tuturku. “Kok bisa benci? Terus ngapain lo ambil foto dia?”. “Semua itu berawal dari pertemuan singkat di eskul elo. Entah kenapa gue bisa benci banget sama dia. Dan beberapa hari yang lalu gue baru tau kalo saudara gue kenal deket sama keluarga doi”. Rasya mendengarkan ceritaku dengan seksama. “Yah begitulah Ras, gue harap yang tau ini Cuma lo dan Dila yaaa” aku mengakhiri cerita. Rasya hanya mengangguk pelan. Tak terasa waktu pulang tiba. Aku dan Dila bergegas pulang. Saat ingin melewati gerbang, melintas sebuah motor ninja merah dihadapan kami. Yah, itu Yuda. si keren yang idolakan banyak orang, kecuali aku.

*****
“Jen, ada Yuda tuh”Rasya menunjuk dengan semangat. “Biarin aja, bodo amat lah. Nggak perduli gue”. Setelah kata – kata itu keluar dari mulutku, seolah semuanya berbalik arah menghujatku. Sejak saat itu, semua yang kusayangi semuanya berhubungan dengan Yuda. Dila, sekarang dia udah lumayan akrab sama Yuda, si kakak kelas yang mempesona itu. Mereka kenal karena satu eskul dan suatu perlombaan. Mungkin karena seringnya Dila menyebut namaku dihadapannya, Yuda mulai mengenalku. Perlahan dia sering menegurku. Siang itu, sesaat sehabis solat duha, aku ingin kembali ke kelas. Aku melihat Yuda berdiri bersandar di tiang koridor. seperti biasa, aku lewat tanpa mengucapkan apapun bisa dibilang tak menegur. Tapi tanpa diduga, saat aku tepat berpapasan berada di sampingnya, Yuda mengucapkan satu kata “Jejeeeen....”. speechless, nggak bisa ngomong apa – apa. Aku hanya tersenyum kecil dan berkata “Heheiyaaa”. Tapi, kenapa saat namaku disebut olehnya, hati ini terasa bahagia luar biasa. Perasaan yang dulu pernah kurasakan, pernah pergi, dan kini seolah perasaan itu kembali hadir. Tapi. Saat aku ingin memutuskan kalau aku suka sama Yuda hati ini menolak. Masih ada segelintir perasaan benci tersisa.

Sesampainya di kelas, aku langsung curhat sama Dila. “Gimana coba Dil?”tanyaku. “Bentar lagi itu mah, bentar lagi kamu bakal klepek-klepek sama Yuda”. Oh God! Apa yang harus aku lakukan? Mesti seneng atau sedih?

*****
“Gila manis banget tuh kakak”ucapku pada Dila. Aku suka pada kakak kelas yang entah hanya perasaan suka biasa atau bisa dibilang jatuh cinta aku tak tau. Yang jelas hatiku saat melihatnya berasa cenat-cenut kalau kata sm*sh. Namanya Beno, orangnya biasa aja, tinggi, item manis. Hadirnya Beno mengurangi sedikit kegalauanku pada Yuda. setiap pulang sekolah aku selalu menunggu Beno keluar dari kelas hanya untuk sekedar melihat keadaannya hari ini.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun belum berganti. Rasaku pada Beno makin memuncak. Yah, kurasa aku benar-benar suka padanya. Tapi sayang, Beno yang sempat akrab sama aku, kini sangat dingin. “Dingin banget ya Jen, kak Beno sama kamu”ucap Mawar, sahabatku juga. “Iya War, kenapa sih Beno jadi kayak gitu?”ucapku sedih. “Dasar kakak kelas pembuat galau”timpah Dila. Sontak aku menoleh, disusul dengan Mawar. Suasana hening, lalu pecah dengan tawa kami. “Iya ya, dasar tuh kakak sialan! Nyampe di rumah showeran yuk”ucapku. “Showeran lima jam”balas Dila. “Nanti air kosan lo abis lagi”balasku lagi. Kami tertawa bersama. Untungnya masih ada mereka. Sehingga aku masih bisa tertawa ditengah-tengah jutaan masalah.

*****
Tahun berganti tahun, sebentar lagi angkatan Beno, Yuda, dan sebangsanya akan lulus dan pergi dari sekolah ini. Perasaan semakin mengecam, bingung, dan tak tau harus berbuat apa. Hari demi hari terlewati tanpa terasa. Yuda yang semakin sering menghantui kehidupanku, sementara Beno yang terus menjauh. Aaaaaaaaaaaaa! Ingin rasanya pergi ke tebing yang tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya.

Bingung, kenapa semua ini bisa terjadi dalam hidupku. Puncaknya pada saat aku berulang tahun ke 16. saat itu aku meninginkan 16 harapan dari semua orang. Ternyata, tanpa diduga, harapan ke 16 itu adalah harapan dari Yuda. dalam hati dia berdoa yang aku tak tau apa isi doanya. Kebencian perlahan luntur dan berbalik menjadi respect. Apalagi Rasya pernah curhat padaku “Jen, Yuda udah berubah tau. Anaknya jadi asik, enak diajak curhat”. God! Ucapan itu membuatku semakin bingung akan perasaanku. Nggak mungkin kalau aku suka sama Yuda, dia terlalu tinggi untukku. Kepintarannya, kedewasaannya, wawasannya, membuatku semakin minder. Sementara, waktu semakin berlalu dan Yuda akan lulus dan kuliah di luar kota, provinsi, dan lebih spesifiknya di luar pulau yang saat ini aku tempati. Aku adalah tipe orang yang tertutup, sulit untuk menceritakan perasaanku. Aku ingin jujur, ingin mengajaknya bicara berdua. Ingin menungkapkan semua perasaanku padanya dari awal, awal sekali. Dari mulai aku benci padanya, sampai aku merasakan perasaan ini, yang entah apa namanya.

Kamis, 21 April 2011

17 angka keramat tata



Haloo semua penggemar ayee (loh?) #kayak punya penggemar aja :/ . buka lembaran baru, tutup lemari lama (?) . kisah cinta gue sama tam tam dan sejenisnya udah berlalu. Kalo kata bang roma irama ‘berlalu biar berlalu, kalau tiada artinya’ (?)
Okedeh, saat ini gue lagi sendiri. Maksudnya bukan jomblo, tapi emang gue lagi sendiri disini, kagak ade sape sape. Kalo masalah status, yah alhamdulillah gue belum menemukan pujaan hati sejati gue, pendamping hidup gue, cinta mati gue I , cinta mati gue II, cinta mati gue III. Walaupun gue jomblooo, tapi hidup gue tetap menyenangkan. Hidup gue pan makmur. I’m single and very heavy #alamak keceplosaan. Maksud aye, single and very happy.

Tapi, karena aye jomblo, mami papi jadi sakit sakitan. Aneh pan ? pas gue tanya noh sama mereka pada, katanye mereka sembuh kalo gue udah bawa calon pendamping gue. Yaelah emang penyakit bisa sembuh kalo gue bawa laki ke rumah #GUBRAK
Kata orang kampung yang jago ngeramal, nasib gue ini bakal bagus. Tapi, gue jauh jodoh. Nah, nasib gue yang bakal bagus itu baru kejadian kalo gue punya suami sebelum umur 17 tahun sebelum jam 17.17 GMT. kenape angka 17 jadi angka keramat gue yee ? Nah lu ? gue aje kagak tau GMT itu dimane ? buseet dah, nih peramal bikin ribet aje. Bukannye buatin jalan keluar malah buat jalan masuk #tonengtoneng

Hari ini hari paling menyebalkan. Gue bakal dijodohin nih sama ncang gue. Tadinya sih gue nolak, tapi beberapa faktor buat gue jadi berubah fikiran. Pertama, papi mami aye kagak mau sembuh kalo gue kagak cepet cepet bawa laki ke rumah (emang yang nentuin sembuh apa nggak mereka ape ?). kedua, katanye gue nggak bakal bahagia kalo gue kagak nikah sampe gue umur 17 tahun. Ketiga, gue kan jauh jodoh, ya mau gimane lagi ? ya terpakse gue harus dijodohin. Huft, kayak jaman siti nurhalizah aja #ngomong dengan pedenya = =’

“mami...! papi.......... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”.
Mami papi langsung ke kamar gue dengan senyum sumringah. Gue meraung raung kayak monyet (loh?). gimane kagak panik, gue mendapati diri gue pagi pagi buta eh udah di pasung. Dikira aye sakit jiwa ape ? ya allah ! tega bener mami papi.
“ini supaya kamu nggak kabur. Sebentar lagi, calon suami kamu dateng. Dan hari ini juga langsung kamu tunangan”kata mami.
“bujubuneng mi.., masa aye belum ape ape udah maen tunangan ! mana nih pake dipasung pasung segale lagi”.
Mami memancarkan senyum pepsudit nye. Ih, maunye ape sih ? gue belom mau tunangan !
Cowok bakal tunangan gue udah dateng. Gue mencoba mengintip dari jendela. Sayang, gue lupa kalo kamar gue kagak ade jendela #GUBRAK
Gue masih berusaha melepaskan pasungan mami. Dan YEAH ! aye berhasil. Hahahaha aye bangga sama diri aye, bisa meloloskan diri dari pasungan (yaiyalah orang pasungannya dari busa ) #toretoret

Gue kabur dari rumah. Bodo amat, bukannya aye kagak sopan, tapi aye punya hak untuk liat dulu muke bakal laki aye dan berhak untuk menolak. Alhamdulillah, akhirnye aye bisa keluar juge dari ni rumah. Daripada aye bete, yaudeh aye pergi noh ke tempat tetangga aye yang lagi hajatan. Gue makan terus dngdutan deeh #terorejingterojingterojing

Bagaimana nasib calon tunangan tata ? bagaimana respon mami papi tata, setelah mengetahui tata kabur dari rumah ?
Kita akan usut tuntas, sekasar sikat ! ^^

'avl'

Selasa, 19 April 2011

sinopsis purple love

ada sinopsis lagi nih :D film ini sih masih coming soon, tapi infonya sekarang nggakpapa kan ? hehe
judul film ini adalah purple love. dimana yang memerankan adalah anak anak grup band ungu loh . #asiik
pemain wanitanya nggak kalah hebat. yaitu nirina zubir,kirana larasati, Qory Sandioriva . waaahhh

nih langsung aja sinopsisnya >>>

Malam itu seharusnya menjadi malam paling indah dalam hidup PASHA. Bersama sahabat-sahabatnya, MAKKI, ONCI, ROWMAN dan ENDA, Pasha sudah merencanakan untuk melamar kekasihnya LISA (Qory Sandioriva). Namun ternyata, di hari yang sama juga, Lisa memutuskan hubungan karena memilih untuk bersama laki-laki lain. Pasha pun shock dan patah hati. Makki pun mempunyai ide untuk menghubungi sebuah agency yang bekerja untuk mengembalikan motivasi orang. Agency ini dimiliki oleh TALITA (Nirina Zubir), seorang gadis cantik yang eksentrik. Talita menyanggupi untuk mengembalikan Pasha kembali seperti dulu. Ia pun dengan berbagai caranya yang unik berhasil membuat Pasha mau bangkit, tapi tetap saja tidak bisa menyembuhkan patah hati Pasha. Akhirnya Talita berkesimpulan, Pasha baru akan bisa sembuh total kalau berhasil menemukan cinta yang baru. Talita pun menjodohkan Pasha dengan kliennya yang lain, SHELLY (Kirana Larasati), seorang gadis lucu naif dan sangat romantis

Tapi ternyata nasib berkata lain. Shelly justru jatuh cinta dengan ONCI, dan Onci juga merasakan hal yang sama. Merasa tidak enak dengan Pasha dan teman-temannya, Onci dan Shelly pun backstreet. Talita pun kebingungan saat Shelly menyatakan tidak mau dijodohkan dengan Pasha. Maksud hanya ingin menghibur Pasha, Talita menyadari kalau ia sebetulnya mencintai Pasha. Pasha sendiri, yang tidak tahu kalau selama ini Talita menjalankan tugas dari teman-temannya, betul-betul mulai merasa jatuh cinta dengan Talita.



Pasha pun melamar Talita. Semua sepertinya berjalan sempurna untuk Talita. Akhirnya ia bisa mendapatkan cinta sejati. Namun semua berubah saat Lisa kembali untuk Pasha. Sepertinya tugas Talita, yaitu mengembalikan kebahagiaan Pasha dengan memberinya cinta akan bisa diselesaikan dengan kembalinya Lisa

Yang mana yang lebih penting untuk Talita? Kebahagiaan Pasha atau kebahagiaan dirinya sendiri?


COMING SOON !
jangan lewatkan film romantis ini :)